NAPAK TILAS PEWARIS NEGERI III

NAPAK TILAS PEWARIS NEGERI III

Sumber Foto : Dokumen elshifa radio/taufik hidayat

Rep/ Red: Annasya Rabu 09 September 2020 14:00 WIB

KESULTANAN DI TANAH JAWA

SUBANG – ELSHIFARADIO.COM, Pulau Jawa merupakan saksi pesatnya perkembangan Islam di Nusantara. Di Pulau Jawa, Islam masuk di antaranya melalui pusat-pusat kerajaan. Di Pulau Jawa, agama kerajaan banyak ditentukan oleh agama pemimpinnya. Ketika seorang raja beragama Islam, maka bercorak Islamlah kerajaan tersebut. Dengan kata lain, menjadi kesultananlah pemerintahan tersebut. Hal ini sangat disadari oleh para penyebar Islam di tanah air.

Wali songo adalah Waliyul Amri atau anggota dewan yang berjumlah sembilan orang. Mereka adalah Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim), Sunan Ampel (Raden Rahmat), Sunan Bonang (Makhdum Ibrahim), Sunan Drajat, Sunan Kudus, Sunan Giri, Sunan Kalijaga, Sunan Muria (Raden Umar Said, dan Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah).

Runtuhnya Majapahit pada awal abad ke – 15 menjadi awalan baru bagi sejarah di Nusantara, salah satunya adalah berdirinya kerajaan Islam pertama di pulau Jawa, yakni Kesultanan Demak. Sultan-sultan Demak diantaranya adalah Raden Patah, Adipati Unus, Trenggono, Bagus Mukmin, dan lainnya. Kemudian berdiri Kesultanan Pajang yang dipimpin oleh Sultan Joko Tingkir. Setelah itu berdiri Kesultanan Mataram, yang pecah menjadi dua yaitu Mataram Surakarta da Mataram Ngayogyakarta.

KESULTANAN CIREBON

Awalnya nama Kesultanan Cirebon adalah Kesultanan Caruban Nagari. Caruban artinya campuran, karena dahulu Cirebon adalah pelabuhan yang banyak dikunjungi orang-orang hingga ada yang tinggal bahkan bercocok tanam, dan menjadi nelayan disana. Bercampurbaurlah orang-orang di Pelabuhan Cirebon ini.

Diriwayatkan, Ki Ageng Tapa yang merupakan Ayah dari Nyai Subang Larang menikah Prabu Siliwangi kemudian memiliki 3 anak bernama Walang Sungsang, Rara Santang, dan Pangeran Sangara. Walang Sungsang adalah orang yang meletakkan batu pertama kesultanan Cirebon. Suatu hari, Walang Sungsang melakukan perjalanan haji bersama adiknya, Rara Santang. Disana Rara Santang kemudian dinikahi oleh Gubernur Mesir kala itu, Syarif Abdullah. Mereka memiliki anak yang merupakan keponakan Sultan Walang Sungsang, Syarif Hidayatullah atau yang kita kenal Sunan Gunung Jati. Sekembalinya Syarif Hidayatullah ke Indonesia, ia menjadi Waliyul Amri dan kemudian menggantikan Sultan Walang Sungsang menjadi Sultan Cirebon. Syarif Hidayatullah memiliki gelar Ingkang Sinuhun Susuhunan Jati Purba Panetep Panatagama Auliya Allah Kutubid Zaman Khalifatur Rasulillah, yang artinya saya yang akan melanjutkan dakwah Rasulullah melalui Kesultanan Caruban Nagari ini untuk mengislamkan Jawa bagian barat.

Wilayah kekuasaan Sultan Syarif Hidayatullah meliputi Kuningan, Cirebon, Majalengka, Indramayu yang memiliki jejak sejarah berupa kraton, rumah adat, tata kota, tata desa, nama jalan, dan pemakaman.

KEDATANGAN EROPA KE NUSANTARA

Bangsa Eropa datang ke Nusantara semata-mata bukan hanya karena rempah-rempah. Zaman dahulu, orang-orang Eropa membeli rempah-rempah ke Konstantinopel. Tapi kemudian Sultan Muhammad Al-Fatih membatasi pergerakan Eropa disana demi keamanan Negara Utsmani kala itu. Maka, orang-orang Eropa marah dan mencari sumber kekayaan rempah-rempah ini hingga menemukan Nusantara. Sehingga mereka mengundang orang-orang Eropa (Spanyol, Portugis, Belanda, Prancis, Inggris) datang ke Nusantara dengan misi Gold-Glory-Gospel, artinya Emas-Kejayaan-Kristenisasi. Terjadilah penjajahan di Nusantara.

Dijajahnya Nusantara membuat Negara Utsmani secara tidak langsung berhutang budi karena kebjakannya membuat orang-orang Eropa menjajah Nusantara. Sultan Utsmani kala itu mengirimkan tentara pasukan elit untuk membantu perjuangan Pangeran Diponegoro kala itu.

Saat perjuangan Pangeran Diponegoro inilah disebut dengan kebangkitan nasional. Kemudian lahir lagi tokoh besar yaitu HOS Cokroaminoto yang melahirkan kesadaran nasional. Karena dari HOS Cokroaminoto lahir seorang Soekarno (nasionalis), Kartosuwiryo (DI/TII), dan Semaun. Setelah terjadi pergerakan nasinal dan lahir Sarekat Islam yang memunculkan tokoh-tokoh penting seperti Buya Hamka, Agus Salim, Sultan Syahrir, dan lainnya. Akhirnya terjadilah proklamasi.

Materi mengenai “Napak Tilas Pewaris Negeri” ini telah disampaikan oleh penulis buku nasional, Ustadz Dedeng Juheri, MPS.Sp., M.Pd., dalam acara yang diselenggarakan oleh Bidang Dakwah Kreatif (DAKREF) Yayasan As-Syifa Al-Khoeriyyah, dalam rangka memaknai momentum HUT RI dan Tahun Baru 1442 H, Kamis (20/08/20). (Rep/ Red: Annasya)

NAPAK TILAS PEWARIS NEGERI II

NAPAK TILAS PEWARIS NEGERI II

Sumber Foto : Dokumen elshifa radio/taufik hidayat

Rep/ Red: Annasya Rabu 09 September 2020 05:45 WIB

SEJAK KAPAN ISLAM MASUK NUSANTARA?

SUBANG – ELSHIFARADIO.COM, Terdapat 3 teori mengenai masuknya Islam ke Nusantara, yaitu teori Gujarat, teori Persia, dan teori Makkah. Teori Makkah membantah teori Gujarat dan teori Persia yang menyebutkan bahwa Islam masuk Nusantara pada abad 12 atau 13 M. Padahal, literatur Cina menyebutkan menjelang seperempat abad ke-7, sudah berdiri perkampungan Arab Muslim di pesisir Pantai Sumatera.

Dalam sejarah Cina yang berjudul Chiu T’hang Shu disebutkan pada tahun 651 Masehi atau 31 Hijriyah, Nusantara pernah mendapat kunjungan diplomatik dari orang-orang Ta Shih, sebutan untuk orang Arab. Empat tahun kemudian, dinasti yang sama kedatangan duta yang dikirim oleh Tan mi mo ni’ (Amirul Mukminin).

Kemudian dari buku Abd Al Rabbah dalam karyanya Al Iqd al Farid, menyebutkan sekitar tahun 718 M ada sebuah proses korespondensi yang berlangsung antara Raja Sriwijaya kala itu, Prabu Sri Indravarman, dengan Khalifah yang terkenal adil kala itu, Umar bin Abdul Aziz, yang berisi:

Surat

Raja Sriwijaya

Prabu Sri Indravarman

Kepada

Khalifah Daulah Umayyah

Umar bin Abdul Aziz

“Dari Raja di Raja [Malik al Amlak] yang adalah keturunan seribu raja; yang istrinya juga cucu seribu raja;

Yang di dalam kendang binatangnya terdapat seribu gajah; yang di wilayahnya terdapat dua sungai yang mengairi pohon gaharu, bumbu wewangian, pala dan kapur barus yang semerbak wanginya hingga menjangkau 12 mil;

Kepada Raja Arab yang tidak menyekutukan tuhan-tuhan lain dengan Tuhan. Saya telah mengirimkan kepada Anda hadiah, yang sebenarnya merupakan hadiah yang tak begitu banyak, tetapi sekadar tanda persahabatan.

Saya ingin Anda mengirimkan kepada saya seseorang yang dapat mengajarkan Islam kepada saya dan menjelaskan kepada saya tentang hukum-hukumnya,”

Namun, apakah surat ini sampai kepada khalifah atau tidak, wallahu ‘alaam. Karena saat itu, Kerajaan Sriwijaya Palembang runtuh dan berganti menjadi Kerajaan Sriwijaya Jambi.

Masih mengenai lanjutan materi mengenai “Napak Tilas Pewaris Negeri” yang telah disampaikan oleh penulis buku nasional, Ustadz Dedeng Juheri, MPS.Sp., M.Pd., dalam acara yang diselenggarakan oleh Bidang Dakwah Kreatif (DAKREF) Yayasan As-Syifa Al-Khoeriyyah, dalam rangka memaknai momentum HUT RI dan Tahun Baru 1442 H, Kamis (20/08/20).

Ada beberapa alasan yang menyebabkan mayoritas penduduk Nusantara memeluk Islam, diantaranya adalah pernikahan antara para pedagang dan bangsawan, seperti Raja Brawijaya yang menikahi Putri Jeumpa, yang melahirkan Raden Patah. Kemudian karena pendidikan pesantren, pedagang Islam, seni dan kebudayaan, seperti wayang yang disebarkan oleh Sunan Kalijaga, serta karena dakwah.

Sementara itu, ketika Kerajaan Kediri runtuh berganti menjadi Kerajaan Singosari yang mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Prabu Kertanegara. Prabu Kertanegara memiliki sumpah untuk menyatukan seluruh melayu dengan melakukan Ekspedisi Pamalayu. Ketika Singosari sedang merancang ekspedisi ini, datanglah Jenderal Mengki utusan Kaisar Mongol, Kublai Khan, yang sedang menguasai Cina. Jenderal Mengki menyerahkan surat yang dititipkan Kublai Khan dan berisi perintah untuk tunduk pada Kekaisaran Mongol, sehingga menimbulkan kemarahan Prabu Kertanegara. Pada satu Riwayat menyebutkan bahwa prabu memotong telinga Jenderal Mengki dan pada Riwayat lain menyebutkan bahwa prabu menebas wajah Jenderal Mengki berbentuk huruf X dengan kerisnya. Hal ini menyulut perang antara kedua kerajaan. Sehingga Kekaisaran Mongol mengirimkan tentaranya bermaksud untuk meluluhlantakkan tanah jawa khususnya menyerang Kerajaan Singosari.

Namun, belum sampai tentara Mongol ke Nusantara, Kerajaan Singosari telah diruntuhkan terlebih dahulu oleh Jayakatwang yang merupakan besan Prabu Kertanegara. Ketika Prabu Kertanegara mengirimkan tentaranya ke Sumatera, Singapura, dan Malaysia dalam Ekspedisi Pamalayu, Jayakatwang yang merupakan pemimpin Kerajaan Kediri yang sudah runtuh menginginkan kekuasaan. Sehingga ia menyerang Kerajaan Singosari yang menyebabkan Prabu Kertanegara terbunuh. Sementara menantu Kertanegara, Raden Wijaya melarikan diri dari kejaran tentara Kediri dan Arda Raja tetap memihak ayahnya, Jayakatwang. Kerajaan Kediri pun kembali berkuasa menggantikan Kerajaan Singosari.

Saat konflik itu terjadi, datanglah tentara Mongol yang notabene akan menyerang Kerajaan Singosari dalam rangka balas dendam kepada Kertanegara. Namun, tentara Mongol mendapati Kerajaan Singosari telah runtuh dan digantikan oleh Kerajaan Kediri. Lalu tentara Mongol menyerang Kediri, dan seketika hancurlah Kerajaan Kediri. Tidak lama, berdirilah Kerajaan Majapahit. Pada masa kekuasaan Kerajaan Majapahit, pemeluk Islam sudah ada namun belum banyak dan penduduk Muslim sulit untuk menembus wilayah kerajaan. Akhirnya, pada masa pemerintahan Prabu Brawijaya, ajaran Islam mulai meluas karena prabu menikah dengan Putri Kerajaan Champa di Kamboja, Amarawati. Sementara itu, kakak ipar Amarawati merupakan ulama bernama Sayyid Ibrahim Al-Akbar. Sehingga, Prabu Brawijaya meminta Sayyid Ibrahim Al-Akbar untuk datang ke Kerajaan Majapahit dan berdakwah di Jawa, agar dapat mendirikan Daharmayaksa Bhatara Ring Kaislaman (seperti MUI kini). Dari Sayyid Ibrahim Al-Akbar inilah lahir Sunan Ampel. Sehingga dengan datangnya Sayyid Ibrahim Al-Akbar menjadi jalan Islam mulai menyebar di Nusantara. (Rep/Red: Annasya)

NAPAK TILAS PEWARIS NEGERI I

NAPAK TILAS PEWARIS NEGERI I

Sumber Foto : Dokumen elshifa radio/taufik hidayat

Rep/ Red: Annasya Selasa 08 September 2020 10:30 WIB

KEKUASAAN DIPERGILIRKAN

SUBANG – ELSHIFARADIO.COM, Sebelum Islam masuk ke Nusantara, telah terjadi masa kejayaan Islam yang dipergilirkan mulai saat masa kenabian, kemudian masa kejayaan Khulafaur Rasyidin, Dinasti Umayyah, Dinasti Abbasiyah, Dinasti Ayyubiyah, Dinasti Mamluk, Dinasti Saljuk, dan Dinasti Utsmani.

Materi mengenai “Napak Tilas Pewaris Negeri” ini telah disampaikan oleh penulis buku nasional, Ustadz Dedeng Juheri, MPS.Sp., M.Pd., dalam acara yang diselenggarakan oleh Bidang Dakwah Kreatif (DAKREF) Yayasan As-Syifa Al-Khoeriyyah, dalam rangka memaknai momentum HUT RI dan Tahun Baru 1442 H, Kamis (20/08/20).

Beliau memaparkan bahwa pada saat kejayaan Dinasti Umayyah, terjadi suatu intrik politik dimana mereka bertemu dengan keturunan Utsman. Dinasti Umayyah ini terbagi menjadi dua, yaitu Umayyah di Damaskus dan Umayyah di Andalusia, Spanyol yang menjadi kekuatan besar.

“Sementara itu, ada seseorang dari keturunan Abbasiyah, yaitu paman dari keturunan Rasulullah SAW, Abbas bin Abdul Muthalib, menghendaki kekuasaan kepemimpinan saat Dinasti Umayyah berkuasa. Kemudian pihak Abbasiyah memberikan undangan silaturahmi bagi seluruh keluarga Umayyah untuk berkumpul di suatu aula. Namun, setelah acara itu selesai, begitu seluruh keturunan Umayyah keluar dari aula, mereka di bantai habis-habisan oleh pihak Abbasiyah. Beruntung, Putra Mahkota Dinasti Umayyah, Abdurrahman (17), dan adik bungsunya, Hisyam (13), selamat dari pembantaian. Mereka melarikan diri dan mengadukan apa yang terjadi pada ayahnya.” Paparnya.

Selanjutnya putra mahkota dan adiknya dilindungi perempuan-perempuan Umayyah untuk melarikan diri dari tentara Abbasiyah. Mereka menyusuri sungai yang arusnya deras, namun sang adik, Hisyam, tidak mengindahkan larangan kakaknya. Ia kembali ke tepi setelah diiming-imingi jaminan keselamatan oleh tentara Abbasiyah. Padahal, itu hanyalah tipu muslihat, sehingga sesampainya diantara tentara Abbasiyah, Hisyam langsung dipenggal di depan mata kakaknya sendiri.

Abdurahman sebagai putra mahkota Dinasti Umayyah terus menyusuri sungai hingga ke Maroko dan menyeberangi lautan hingga Andalusia. Kemudian ia membentuk suatu pasukan, berdakwah dan memberikan pemahaman sampai masyarakat menerima. Akhirnya ia dapat mendirikan Dinasti Umayyah II di Andalusia. Sehingga pada masa tersebut, ada dua dinasti yang berkuasa, yaitu Dinasti Abbasiyah dan Dinasti Umayyah II.

Pada masa kekuasaan Abbasiyah, orang-orang Persia diberikan kesempatan oleh Allah SWT masuk Islam dan mendapatkan hidayah. Kemudian banyak diantara mereka yang menjadi pejabat-pejabat tinggi di pemerintahan. Namun, mereka menjadi serakah, korupsi terjadi dimana-mana, kesenangan dunia yang menjadikan mereka melalaikan ibadah sehingga Negeri Abbasiyah menjadi semakin bobrok. Maka Allah cabut kekuasaan Abbasiyah dan berganti dengan kekuasaan Dinasti Ayyubiyah melalui Shalahuddin Al-Ayyubi.

Shalahuddin Al-Ayyubi adalah putra dari seorang ahli hukum tata negara, Nazmuddin Ayyub, dan pamannya adalah ahli militer yang hendak membebaskan Palestina kala itu, Asaduddin Syirkuh. Pada masa Ayyubiyah terjadi perang yang panjang selama 200 tahun, yaitu Perang Salib. Ketika gencatan senjata dilakukan, disinilah terjadi pertukaran budaya. Seperti melalui perdagangan, saling mengunjungi wilayah, hingga pernikahan.

Setelah Dinasti Ayyubiyah, kekuasaan beralih ke Dinasti Mamluk. Salah satu pemimpinnya adalah Saifuddin Muzaffar al-Quttuz, yang pada saat itu menaklukkan tentara Mongol. Mongol adalah negara kecil yang dapat menguasai sepertiga dunia, sehingga menjadi kerajaan besar.

Mongol berkuasa hingga era Dinasti Saljuk dan Dinasti Utsmani. Namun, saat Mongol akan menyerang Mesir, penguasa Dinasti Mamluk kala itu, Saifuddin Muzaffar al-Quttuz dapat memukul mundur para tentara Mongol. Saat itu, Penguasa Mongol, Jenghis Khan, memiliki cucu bernama Berke Khan yang kemudian menjadi orang Mongol pertama yang masuk Islam. Selanjutnya diikuti oleh pejabat-pejabat tinggi dan rakyat Mongol, sehingga Islam mulai menyebar di Bangsa Mongolia.

Setelah Mamluk, kemudian berkuasalah Dinasti Saljuk. Diantara pemimpinnya adalah Sultan Alp Arselan dan Sultan Alauddin Kaikobad yang dikisahkan memanggil Ertugrul karena telah menolong tentara Saljuk saat berperang dengan tentara Kristen Eropa. Sultan Alauddin Kaikobad memberikan wilayah kepada Ertugrul untuk ditempati rakyatnya, yaitu wilayah Anatolia (kini menjadi bagian Turki modern) yang merupakan cikal bakal berdirinya Turki Utsmani melalui anaknya yang bernama Utsman, sang pendiri Dinasti Utsmani. Dinasti Utsmani berkuasa hingga 3 Maret 1924 M. Runtuh saat kepemimpinan Mustafa Kemal Ataturk, karena terlibat Perang Dunia I.

Dari tahun 1924 M hingga saat ini belum ada lagi khilafah di dunia yang menaungi kaum Muslimin. Maka, para ulama Nusantara, KH. Hasyim Asyhari dan KH. Ahmad Dahlan karena sudah memprediksi kejadian ini, mendirikan Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama (NU). Kemudian mereka memerintahkan utusan agar kekhalifahan dapat berdiri Kembali. Namun, hal ini belum terwujud dan masih harus kita perjuangkan. (Rep/ Red: Annasya)